Selasa, 19 Mei 2015
Sosok
DRS. Irzen Hawer
Drs. Irzen Hawer lahir di Padangpanjang Sumatra Barat tahun 1960,
merupakan seorang tenaga pendidik di SMA 1 Batipuah, Tanah Datar, Sumatera
Barat. Irzen Hawer lulusan dari IKIP Padang jurusan Bahasa Indonesia dan di SMA
1 Batipuah, ia mengajar di bidang studi Bahasa Indonesia. Selain menjadi
seorang guru, Irzen Hawer juga aktif menulis, ia bergabung dengan Komunitas
Forum Aktif Menulis bersama temannya Muhammad Jujur, Muhammad Subhan.
Sebagai seorang yang aktif menulis, Irzen Hawer telah menerbitkan 4 buah
novel, yaitu Novel Cinta di Kota Serambi diterbitkan pada tahun 2010, Prosa Cinta di Kota Serambi juli 2011,
Gerhana di Kota Serambi pada November 2011, Gadis berbudi pada tahun 2012.
Dalam novelnya, Irzen Hawer menceritakan suka duka hidupnya di Padangpanjang,
semua cerita di rangkai begitu menarik sehingga memikat daya tarik masyarakat
untuk segera membaca novel tersebut.
Selain menulis novel, Irzen Hawer juga disebut sebagai cerpenis, beberapa
karyanya menjadi juara pada “Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Forum Aktif
Menulis (FAM). Salah satunya cerpen 4 sen yang menjadi juara 3.
Irzen Hawer dikenal remaja-remaja Kota Padangpanjang sebagai seorang guru
yang suka menebar virus menulis. Semangat dari sastrawan Kota Padangpanjang ini
memicu semangat remaja-remaja yang hobi menulis untuk lebih giat lagi dalam
berkarya, agar mampu menghasilkan karya tulis yang baik.
Selasa, 05 Mei 2015
“Penjual Bendera”, Pertunjukan yang dipentaskan untuk memenuhi syarat Ujian Akhir Minat Pemeranan Mahasiswa Prodi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Padangpanjang, merupakan sebuah pertunjukan yang menceritakan perjuangan. Upaya dari tokoh Gareng yang diperankan oleh Mahasiswa Teruji Hendri Ilham, mencerminkan sifat kepahlawanan dan kepedulian terhadap Indonesia, namun peran aktor Gareng dalam lakon “Penjual Bendera” yang kali ini dipentaskan menjurus kepada kelabilan seseorang terhadap diri sendiri dan keluarga.
Menyaksikan pertunjukan teater yang
dipentaskan di Gedung Teater Arena Mursal Eisten Institut Seni Indonesia, pada
Kamis (16/4) pukul 20.00 WIB, penonton dibawa untuk merasakan perjuangan
kemerdekaan Indonesia, dan merasakan kebanggaan seseorang terhadap kemerdekaan
Indonesia. Pertunjukan “Penjual Bendera” karya Wisran Hadi yang dipentaskan
kali ini memakai logat Jawa, namun upaya aktor-aktor untuk menjadikannya logat
jawa tampaknya belum berhasil, dilihat dari kata-kata yang diucapkan masih menggunakan
logat masyarakat Jakarta Pinggiran.
Naskah ini pada dasarnya merupakan
pandangan masyarakat biasa terhadap kemerdekaan Indonesia, menjelaskan falsafah
bendera secara garis besar. Penulis naskah mengajak kita kembali pada
perjuangan Indonesia, ia mengagungkan bendera merah putih sebagai ujung dari
keberhasilan. Begitulah naskah ini dibawakan oleh Ilham, ia menjadikan naskah
Non Realis ini menjadi bentuk naskah yang realis. Set dan properti yang
minimalis berupa kursi tua, mesin jahit, lemari kayu, meja makan sebagai
penanda kehidupan sederhana keluarga di dalam naskah.
Pertunjukan lakon “Penjual Bendera”
ini sudah beberapa kali dipentaskan di Gedung Teater Arena ISI Padangpanjang,
pada tahun 2013 seorang Sutradara muda bernama Winda mementaskan lakon ini
dengan genre non realis, ia berhasil mementaskan naskah ini dengan baik.
Begitu juga dengan Ilham, ia berhasil
mementaskan naskah Penjual Bendera, dengan penonton yang sangat ramai, namun
menjadi perbandingan oleh para penonton. Salah satu mahasiswa mengatakan,
“Pertunjukan lakon Penjual Bendera yang di pentaskan Ilham memang bagus, tapi
jauh lebih bagus pertunjukan beberapa tahun yang lalu yang juga pernah di
pentaskan Winda. Dibandingkan konsepnya, pertunjukan Ilham terlihat lebih
sederhana dan tidak menarik”.
Saat pertunjukan berjalan, dosen Prodi
Teater ISI Padangpanjang mengkritik bahwa, “Kurangnya kreatif mahasiswa,
mementaskan naskah yang sudah sering digarap, dengan intonasi yang tak pernah
berubah dari waktu ke waktu”. Ia berharap kedepannya generasi teater mampu
membuat kreatifitas baru terhadap akting dan intonasi yang digunakan. Dibalik
perbandingan penonton dan kritikan dosen. Namun penonton-penonton sangat
mengapresiasi pertunjukan “Penjual Bendera” ini dengan baik. Dari awal
pertunjukan hingga pertunjukan usai, penonton tidak ada yang keluar dari Gedung
Teater Arena, mereka menikmati setiap bisnis akting dan alur cerita pada lakon
ini
Naskah “Penjual Bendera” karya
Wisran Hadi ini memang menjadi naskah yang sering dipilih untuk dipentaskan
oleh mahasiswa-mahasiswa Prodi Teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang,
dikarenakan naskah ini menarik dan tidak terlalu panjang. Pada pertunjukan
lakon “Penjual Bendera” ini, terdapat banyak kesalahan pada pembawaan dialog,
kurangnya pemahaman terhadap logat jawa menjadikan pertunjukan ini tidak
kosisten terhadap konsep pemeranannya. Pertunjukan yang berlangsung kurang
lebih 60 menit ini diperankan oleh 4 orang, Hendri Ilham sebagai Gareng, Ami
Tri Sayutri sebagai Sompeng, Iwan sebagai Jondul dan Danny sebagai Bercep.
Dilihat dari segi kesiapan aktor,
beberapa masalah terlihat disaat pertunjukan di mulai. Salah satunya kurangnya
pemahaman aktor terhadap karakter yang dimainkan. Secara emosional, peran
Jondul yang dimainkan Iwan dan peran Bercep yang diperankan danny masih sama
dengan kebiasaan mereka diluar panggung, dan vokal merekapun tidak terdengar
jelas oleh penonton. Namun, beberapa kesalahan yang diperankan oleh aktor tidak
begitu terlihat dengan ditutupi improvisasi yang tepat.
Secara keseluruhan, penataan cahaya terlihat
sederhana, suasana rumah lebih terlihat jelas, dan musik yang mengiringi serta
nyanyian lagu wajib terdengar indah. Penonton terbawa suasana pertunjukan dan
dapat menikmati pertunjukan dengan santai dan khidmat.
Selasa, 07 April 2015
KOMUNITAS “JELAJAH ADAT DI INDONESIA” ASAL UNIVERSITY MALAYA BERKUNJUNG KE PADANGPANJANG
0 komentar Diposting oleh Unknown di 08.44BERITA
Kamis,
12 maret 2015. Komunitas MT JADI (Jelajah Adat Di Indonesia) University Malaya berkunjung
ke Padangpanjang, Indonesia. Ini merupakan kunjungan pertama kali mereka dalam
program Colej Tuanku Bahaniyah. Kedatangan mereka bertujuan untuk
bersilaturahmi dan berbagi ilmu pengetahuan sesama masyarakat di Minangkabau
khususnya.
Komunitas
MT JADI ini sampai di BIM (Bandara International Minangkabau) pada hari kamis 12
maret 2015 pukul 14.00 WIB. Kedatangan mereka dijemput oleh salah satu
mahasiswi prodi teater ISI Padangpanjang bersama sopir kampus menggunakan bus
ISI Padangpanjang. Kemudian mereka langsung menuju penginapan wisma Cahaya Nur
yang berada di Silayiang Bawah Kota Padangpanjang.
Kegiatan
Komunitas MT JADI University Malaya ini berlangsung selama 3 hari yaitu dari
tanggal 12 hingga 15 maret 2015. Berbagai kegiatan dilaksanakan seperti diskusi
randai dan belajar kesenian tradisional randai, karena kesenian randai
merupakan kesenian tradisi Minangkabau yang sudah mendunia, mereka menjadi
tertarik untuk mempelajari setiap gerak randai ini. Selain randai, MT JADI
mempersembahkan pertunjukan tarian Dabus asal Malaysia, tarian ini menyerupai
gerakan pertahanan silat, dan disetiap gerakannya memakai gerak ciri khas
tarian melayu.
Selain
itu, Komunitas MT JADI ini juga berkunjung ke Kota Wisata Bukittinggi, mereka
membeli berbagai macam baju bertuliskan Jam Gadang, dan membeli aksesoris khas
Bukittinggi. Komunitas ini juga berkunjung ke PDIKM (Pusat Dokumentasi
Informasi Kebudayaan Minangkabau) yang berada di Padangpanjang, di PDIKM mereka
diberi pengetahuan oleh pengurus PDIKM mengenai fungsi Rumah Gadang dan
menjelaskan apa itu keturunan Dt. Katumangguangan dan Dt. Parpatiah Nan
Sabatang. Setelah itu, beberapa dari mereka memakai kostum anak daro dan
marapulai untuk di dokumentasikan.
Tidak
hanya mempelajari adat istiadat Minangkabau. Komunitas MT JADI University
Malaya juga memberi SEMBAKO (Sembilan Bahan Pokok) kepada beberapa warga kurang
mampu di Silayiang Bawah Padangpanjang, ini merupakan cara mereka
bersilaturahmi dengan masyarakat disekitar penginapan.
Selanjutnya
adalah berkunjung ke SD N 07 Padangpanjang, anggota-anggota Komunitas MT JADI
University Malaya disambut dengan tarian persembahan, kedatangan mereka juga
disambut oleh orangtua murid beserta guru-guru pengajar. Di SD N 07
Padangpanjang, anggota MT JADI mengajarkan siswa-siswa kelas 1 cara mewarnai
yang baik dan juga mengajarkan Bahasa Inggris, usai belajar bersama, diadakan
permainan balon, balapan mengumpulkan bola pimpong, ditutup dengan tarian Dabus
dan penyerahan Cindramata dari Kepala Sekolah SD N 07 Padangpanjang kepada
Komunitas MT JADI University Malaya dan beberapa hadiah dari Komunitas MT JADI
kepada siswa-siswa dan juga guru-guru pengajar beserta Kepala Sekolah SD N 07
Padangpanjang.
Selasa, 31 Maret 2015
“Parade Tikus” sebuah pertujukan monolog karya
Welly SK yang kali ini dipertunjukan oleh Ilham Ramadhan dan disutradarai oleh Yalesvita S.Sn.,M.Sn.
Ilham Ramadhan merupakan mahasiswa jurusan teater di ISI Padangpanjang yang
mempertunjukan monolog Parade Tikus di SMK N 1 Solok, merupakan pertama
kalinya Ilham Ramadhan menampilkan monolog ini di luar kampus, sebelumnya
pernah dipertunjukan di gedung teater arena ISI Padangpanjang dalam rangka
ujian semester.
Naskah monolog Parade Tikus karya
Welly SK menceritakan tentang penelitian seorang ilmuwan yang meneliti tikus,
namun dibalik penelitian tersebut ia juga berfikiran bahwa tikus erat kaitannya
dengan korupsi yang dilakukan oleh para guru-guru dan juga pejabat. Ini
merupakan alasan pertama kenapa naskah ini dipilih untuk dipertunjukan di SMK N
1 Solok, karena erat kaitannya dengan pengetahuan siswa mengenai permasalahan
korupsi di Negara kita.
lham Ramadhan memilih naskah ini
dipentaskan selama 2 hari, pada tanggal 14 maret – 15 maret 2015 pukul 16.00
WIB di SMK N 1 Solok dengan tujuan untuk memberikan apresiasi tentang seni
peram khususnya monolog pada siswa-siswa yang ada disekitar kota Solok, agar
para siswa memahami masalah yang terjadi di zaman sekarang dan bagaimana
pengaruh negatifnya terhadap masyarakat. Ilham Ramadhan berharap, yang menonton
pertunjukan ini dapat memaknai setiap pesan yang disampaikan dalam setiap
dialog “Parade Tikus”
Ilham mengatakan bahwa, “naskah ini
bagus untuk remaja, supaya tidak menjadi benih-benih bagi generasi remaja
menjadi tikus berdasi yang menggerogoti uang rakyat nantinya. Semoga saja
dengan pertunjukan ini dapat menunjang siswa-siswa untuk berkreatif kedepannya”.
Dari hasil yang dilihat, pertunjukan
berjalan dengan lancar, panggung disetting semaksimal mungkin, musik pendukung
sangat menunjang emosi pemain, sehingga pertunjukan tampak menarik. Dari
penuturan Ilham Ramadhan, aula SMK N 1 Payakumbuh tidak terlalu ramai didatangi
oleh siswa-siswa karena beberap`a kendala, seperti kesibukan siswa-siswa
menghadapi ujian mid semester, oleh karena itu ticket yang telah disediakan
hanya terjual beberapa saja. Namun pertunjukan tetap berjalan walau tidak ramai
yang hadir.
Rabu, 18 Februari 2015
REPORT
PROGRES NASKAH CALIGULA
1. Apa
yang dirancang
Dalam
menentukan naskah yang akan dipilih oleh Mahasiswa minat pemeranan, Mahasiswa
terlebih dahulu menimbang dan mencari solusi untuk pemilihan naskah agar tidak
kesulitan dalam menggarap sebuah teater klasik khususnya pada zaman romawi
kuno, karena mengingat mahasiswa minat pemeranan drama klasik angkatan 2012
semester V yang berjumlah 13 orang, dan hasil wawancara saya dengan beberapa
orang mahasiswa yang mengatakan untuk membahas rancangan naskah yang akan
dipilih, terdapat beberapa pertimbangan dalam membedah naskah, pada akhirnya
dosen mata kuliah mengusulkan naskah Caligula untuk di garap, karena naskah
zaman romawi kuno memiliki jumlah aktor yang seimbang dengan jumlah mahasiswa
minat pemeranan, dan hasil dari kesepakatan telah diputuskan naskah yang
digarap adalah lakon Caligula.
2. Tahap
konseptual apa yang akan di lalui pelaku diatas panggung
Tahap-tahap
yang dilalui dalam menggarap naskah Caligula, pertama melakukan casting, dosen
menentukan karakter siapa yang cocok untuk masih-masing tokoh. Setelah tahap
casting berhasil, masing-masing tokoh sudah ditentukan, dilanjutkan lagi ke
tahap reading dan penghafalan naskah, untuk proses penghafalan naskah,
mahasiswa diberi waktu sebulan untuk menghafal naskah, walaupun dua bulan
setelah itu, ternyata masih ada mahasiswa yang masih memegang naskah ketika
proses. Permasalahan tersebut di karena kan banyaknya aktor yang izin latihan ketika
proses. Sesuai arahan dari dosen mata kuliah, tahap selanjutnya ialah
pendalaman karakter dan menentukan blocking. Namun pencarian blocking
dilakukan individual, setelah itu baru
dosen pembimbing melakukan pembersihan terhadap blocking mahasiswa.
Tahap
lainnya ialah menentukan setting, dan kostum, kemudian untuk hasil akhir
aktor-aktor latihan akhir meggunakan setting, kostum, properti dan musik, agar
ketika tampil di panggung semuanya dapat dibawakan dengan baik.
3. Observasi
Setiap
proses yang dilakukan dalam menggarap naskah ini. Mahasiswa minat pemeranan
mengatur jadwal latihan demi kelancaran proses, karena mata kuliah ini 4 sks,
oleh sebab itu 2 jadwal memakai jadwal kuliah dan 1 jadwal memakai jadwal
tambahan.
Jadwal
latihan :
a. Rabu,
jam 20.00 WIB.
b. Kamis,
jam 10.00 WIB
c. Jumat,
jam 10.00 WIB
Dari
penentuan jadwal latihan ini, masih terdapat kendala-kendala dalam melakukan
proses, salah satu kendalanya ialah kurangnya kesadaran aktor terhadap proses,
contohnya ketika si A datang, si B izin, ketika si B datang si A ada halangan,
karena kendala ini menyebabkan proses menjadi tersendat dan penghafalan naskahpun
membutuhkan waktu yang lama.
Akibatnya
pemahaman aktor terhadap karakter yang dimainkan kurang maksimal dan blocking
masih belum tertata dengan rapi. Namun pertunjukan naskah Caligula ini berhasil
dipentaskan dan memukau semua penonton yang hadir, pengaplikasiaannya terhadap
4. Metode/tekhnik
pemeranan
Drama
klasik “Caligula” berawal pada zaman Romawi, cerita “Caligula” merupakan kisah
nyata yang di naskahkan oleh Albert Camus. Caligula menceritakan tentang kisah
kaisar paling kejam sepanjang sejarah Roma, dia mempergunakan kekuasaannya atas
kehendaknya sendiri, tapi Albert Camus membuat naskahnya menjadi eksistensialis.
Mahasiswa Seni Teater angkatan 2012 mengangkat Drama Klasik Romawi”Caligula”
ini untuk di pentaskan, mereka menggarap naskah ini mengingat banyaknya jumlah
aktor yang dibutuhkan, karena naskah Caligula membutuhkan lebih dari 10 aktor,
maka dengan berbagai pertimbangan,dosen pemeranan memutuskan naskah ini untuk
di garap mahasiswa.
Sebelum
memutuskan untuk menggarap naskah Caligula, mahasiswa di casting terlebih
dahulu untuk pencocokan karakter, sehingga terpilihlah peran yang cocok bagi
masing-masing pemain, kemudian lanjut dengan reading, butuh waktu lama untuk
reading, mengingat naskah drama klasik Caligula ini panjang dan dialognya yang
puitik agak sukar untuk dipahami. 40% hafalan naskah kemudian mereka membentuk
blocking masing-masing tokoh. Dalam naskah Caligula ini mereka memakai akting
Presentasi, sedangkan gestur yang di pakai adalah grand style dan dialognya pun
puitik.
Dalam
proses latihan Caligula mereka
menghadapi beberapa kendala salah satunya jadwal latIhan yang terganggu
oleh perbagai acara di kampus, dan juga susahnya mengumpulkan mahasiswa
pemeranan untuk latihan bersama, sehingga sebulan sebelum pertunjukan/ujian
semester ini persiapan mereka baru mendekati 50%.
Wawancara
saya dengan salah satu pemain Caligula, ia mengatakan sukar memahami naskah, dan
pendalaman karakterpun belum sepenuhnya di dapatkan. Untuk mengatasi itu,
mereka mencari beberapa referensi, seperti menonton film Caligula.
5. Bagaimana
penghadiran benda-benda artistik
Pada
pertunjukan Caligula ini, penghadiran benda artistik lebih di utamakan kepada
kenyamanan aktor untuk blocking, dan juga penghadiran benda sebagai bentuk pergantian
tempat. Properti yang digunakan untuk setting berupa trap untuk memberi
Terlebih
dengan pemakaian setting dan properti simbolik yang memancing beragam tafsir. Beberapa
trap yang disusun untuk membuat setting balkon, tonggak untuk penanda istana, dan
kain putih merupakan ornamen artistik yang tidak dapat diartikan sebagai apa adanya.
Dominasi
tata artistik menjadi daya tarik signifikan dari pertunjukan Caligula ini.
Setidaknya, bentuk maupun komposisi yang ditampilkan, walaupun di beberapa item
tidak jelas motivasinya, diharapkan mampu membius penonton untuk memahami latar
tempat dan suasana pada pertunjukan Caligula.
6. Bagaimana
directingnya
Dalam
proses latihan naskah Caligula ini, para aktor diberi pengarahan oleh
pembimbing mata kuliah pemeranan, tidak ada sutradara tetap disini, oleh sebab
itu, arahan pembimbinglah yang menjadi patokan akting mereka. Dalam memberi
arahan kepada mahasiswa, pembimbing hadir dalam beberapa kali latihan dan
melihat perkembangan penghafalan naskah mahasiswa, disaat naskah tersebut sudah
hafal, maka peranan penting pembimbing ialah mengarahkan karakter dan akting
apa yang cocok untuk masing-masing aktor.
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)




